Sudana Abdullah alias Cobra, seorang penjual tisu di simpang Laluan Madani, Batam, Kepulauan Riau, menarik perhatian masyarakat berkat atraksi silatnya saat menjajakan dagangan.
Aksi uniknya bukan hanya sebagai hiburan, melainkan keahlian yang ia kuasai sejak masa belajarnya di pesantren.
Abdullah tidak hanya menjual, tetapi sering menampilkan atraksi silat menggunakan tongkat dan double stick selama 5-7 menit ketika lampu merah menyala.
Kemampuan ini ternyata tidak hanya diperoleh dengan sewenang-wenang, melainkan hasil dari latihan yang telah dilakukan sejak lama.
Belajar Silat sejak di Pesantren
Saat ditanya tentang asal-usul kemampuan bela dirinya, Abdullah mengungkapkan bahwa ia telah mempelajari bela diri sejak belajarnya di pesantren.
“Saya belajar ini waktu di pesantren. Alhamdulillah, sudah bekerja seperti ini sekitar 8 bulan. Melakukan atraksi sebelum menjual tisu, tidak ada niat apa pun, lebih ingin menghibur,” ujar Abdullah, Sabtu (8/2/2025).
Bagi Abdullah, aksi silatnya bukan hanya strategi untuk menarik perhatian pembeli, tetapi juga bentuk ekspresi dari apa yang telah ia pelajari.
Dari Karyawan Pabrik ke Jalanan: Nasib Membawa Cobra Berjualan Tisu
Sebelum menjual tisu di persimpangan Laluan Madani, Abdullah pernah bekerja di sebuah perusahaan di Kota Batam. Tapi nasib berkata lain. Setelah dipecat tahun lalu, ia akhirnya beralih profesi menjadi penjual tisu sebagai pekerjaan utamanya.
“Sebelumnya, ini hanya sampingan untuk tambahan saja. Tapi setelah berhenti dari PT tahun lalu, sepertinya ini menjadi pekerjaan utama saya,” ujarnya.
Meskipun awalnya hanya sebagai pekerjaan sementara, ia telah menempati posisi ini selama delapan bulan.
Strategi Penjualan yang Membawa Bintang Dunia ke Kepri
Aksi silatnya di lampu merah tidak hanya menimbulkan kekaguman, tetapi juga membawa rezeki. Abdullah mengaku bahwa dengan cara ini, penghasilannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Bahkan, ia sempat menerima undangan dari beberapa tokoh di Kepulauan Riau, termasuk mantan Kapolda Kepri, Irjen Pol Yan Fitri Halimansyah.
“Aku bersyukur bisa mencukupi kebutuhan keluarga, tapi kadang penjualan tidak stabil. Saya pernah diundang beberapa tokoh, seperti Kapolda,” katanya.
Keunikan aksinya membuatnya mendapat perhatian dari Dinas Sosial dan Satpol PP. Namun, alih-alih ditertibkan, ia diundang untuk tampil dalam sebuah acara.
“Pernah saya dipantau dan didatangi, namun diminta untuk melaksanakan tugasnya,” katanya.
Silat sebagai Identitas dan Jalan Rezeki
Abdullah membuktikan bahwa apa yang dia pelajari di masa lalu dapat menjadi sumber rezeki di masa kini. Silat yang awalnya merupakan bagian dari pendidikan di pesantren, kini menjadi bagian dari kehidupannya di jalanan.
Tidak hanya sebagai hiburan, aksi silatnya di perempatan jalan merupakan cerminan keteguhan dan kreativitas dalam mencari nafkah.






