” (YONO).
Jika YOLO diartikan sebagai ajakan untuk menikmati hidup tanpa batas, YONO hadir sebagai pengingat akan pentingnya kesederhanaan dan kebajikan dalam mengelola kehidupan.
Gaya hidup YONO mendorong masyarakat untuk fokus pada kebutuhan paling penting, dengan memanfaatkan satu barang atau solusi yang benar-benar lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan tertentu.
Bagaimana dampaknya jika banyak orang menerapkan gaya hidup seperti itu?
Menurut Endang Mariani seorang pengamat psikososial dan budaya, dampaknya bisa positif dan negatif.
Stres keuangan di kalangan masyarakat juga ikut meredup, sehingga menurutnya, kebahagiaan mental akan meningkat.
“Kita tidak lagi melakukan perburuan tren dan ambisi untuk menunjukkan kekayaan, tetapi membangun solidaritas sosial,” ujarnya.
Hal ini dapat mengurangi kecemburuan sosial yang muncul sering kali, dikarenakan kesenjangan gaya hidup, khususnya ketika seseorang merasa tertinggal dalam memenuhi tren.
Dengan demikian, masyarakat akan cenderung lebih menghargai adanya persoalan-persoalan yang dugemunculkan, dibandingkan sekadar mengejar materi.
“Namun karena sampai sekarang masyarakat tidak konsumtif lagi, maka ada kemungkinan merek-merek akan menekan produksi barang, peredaran uang menurun, dan bisa melemahkan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
“Ada dampak positif dan negatif pasti, tergantung bagaimana kita mengelolaanya. Bagaimana kita bisa mengubah dampak negatif menjadi positif,” lanjutnya.
Contoh, karena berkurangnya produksi dan konsumsi barang, maka kerusakan lingkungan pun akan berkurang secara tidak langsung.
“Dampak negatif terhadap lingkungan juga berkurang, dengan mengurangi polusi dan limbah,” pungkasnya.
