Kepala SMAN 1 Bukateja, Purwito, menjelaskan video yang viral menunjukkan sepasang guru bergandengan tangan saat menghadapi protes siswa.
Tidak ada teks yang diberikan, silakan ajukan teks lagi.
Keterlambatan ini memberikan dampak pada kegagalan siswa dalam mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun 2025.
Dalam video tersebut, terlihat seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang bernama LT mencoba berdialog dengan siswa yang sedang marah.
“Saya guru yang ada di video itu mengajar mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK) sehingga terlibat banyak dalam pengembangan SNPMB di sekolah,” kata Purwito saat dihubungi oleh saya, Sabtu (8/2/2025).
Ia menambahkan bahwa salah satu muktamar siswa adalah untuk bertemu dengan guru BP-Masjid, sehingga LT keluar untuk beraudiensi.
Namun, karena merasa sangat takut dan panik menghadapi ratusan siswa sendirian, LT didampingi oleh dua guru senior, Pak Dodo dan bu Sulis.
“Ibu guru BK itu masih sangat muda, statusnya masih guru bantu dan baru dua bulan bertugas di SMA Bukateja, jadi wajar kalau mentalnya belum tangguh menghadapi kondisi semacam itu,” kata Purwito.
Meski didampingi, LT tetap menghadapi protes keras dari murid.
Purwito memberikan penjelasan tentang situasi tersebut, “Saking takutnya menghadapi siswa, tubuh LT sampai gemetar dan keluar keringat dingin.”
Ia menjelaskan bahwa Pak Dodo berusaha memberikan perlindungan dan bantuan kepada LT, bukan untuk tujuan negatif seperti yang dituduhkan.
Purwito menegaskan, untuk kedua-duanya telah dimintai konfirmasi dan tidak ditemukan pelanggaran disiplin atau etika dalam peristiwa tersebut, sehingga tidak ada sanksi yang dijatuhkan.
Kini kami fokus pada proses ujian naik tingkat, alhamdulillah pengisian pengumuman hasil raport sudah selesai dan 140 siswa SMAN 1 Bukateja akhirnya bisa mengikuti Ujian Nasional.
