Sharenting atau Oversharing?

  • Whatsapp

Sharenting adalah istilah yang terbentuk dari “sharing” dan “parenting”, menggambarkan sebuah kebiasaan orang tua menyebarkan konten tentang anak-anak mereka di media sosial. Sharenting bisa mencakup foto, video, dan penuturan bergambar tentang bayi atau anak tumbuhnya, serta kadang dengan batas yang tidak tepat. Dalam beberapa kasus, sharenting dapat dikategorikan sebagai kegiatan berbagi yang terlalu berlebihan jika orang tua ambil pesan ataupun foto lain dari si anak yang sewakti, baik gambar, video, ataupun informasi tentang si anak itu.

Orang tuanya sekarang semakin banyak yang membagikan detail anaknya di media sosial, terutama yang tumbuh dewasa di zaman digital. Mereka cenderung mental untuk berbagi momen-momen penting tentang anak mereka di media sosial. Situasi sharenting saat ini cukup kompleks dan sering kali menimbulkan pendapat yang berbeda-beda tentang hal ini.

Bagi beberapa orang tua, “Sharenting” (paragraf ini aslinya dalamотвIntPtrokEkstranormal bahasa Inggris) melambangkan kebahagiaan dan kebanggaan, karena mereka merasa bangga dan bahagia dengan pencapaian anak dan ingin berbagi momen spesial mereka di media sosial. Membagikan momen di media sosial memungkinkan orang tua tetap terhubung dengan keluarga dan teman yang mungkin tinggal jauh, sehingga mereka dapat melihat perkembangan anak mereka secara terkini. Terkadang, di media sosial orang tua dapat menemukan komunitas dan dukungan dari orang tua lainnya yang mengalami tantangan yang sama dan berbagi kebahagiaan dalam meningkatkan anak-anak.

Meskipun kebiasaan mengunggah pameran orangtua sering dilakukan dengan niat baik untuk berbagi momen kebahagiaan, ada beberapa pertimbangan penting yang harus dipertimbangkan.

Privasi. Membagikan informasi pribadi anak tanpa izin mereka, dapat melanggar hak privasi anak dan berisiko terhadap keselamatan anak. Jejak digital. Konten yang dibagikan di media sosial menciptakan jejak digital anak-anak yang dapat mempengaruhi mereka di masa depan, seperti saat mencari pekerjaan atau dalam kehidupan sosial mereka. Bahkan dapat berujung Eksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan merusak hubungan yang baik di antara teman-teman sebayanya.

Dalam konteks sharenting, banyak orang tua membagikan informasi pribadi anak, seperti potret, video, alamat, atau kisah pribadi secara langsung-tas tanpa pemikiran matang terkait dampaknya terhadap privasi anak tersebut, dan berujung pada informasi berlebihan. Hal ini menyebabkan segudang isu serius terkait hak-hak anak. Terutama dalam konteks perlindungan hukum yang diatur oleh Pasal Perlindungan Anak (UU No. 23 Tahun 2002).

Jika Anda tetap ingin melakukan kebiasaan sharenting, berikut beberapa langkah aman untuk melakukannya dengan bijak tanpa harus mengungkapkan terlalu banyak informasi:

Hormati Privasi Anak.Mpastikan untuk selalu menghormati hak anak atas privasinya. Hindari membagikan informasi pribadi yang bisa mengidentifikasi anak, agar tidak berisiko pada keamanan anak di masa depan.Usahakan mendapatkan persetujuan dari anak. Jika anak sudah cukup berumur, diskusikan dengan anak sebelum memposting apa-apa tentang anak. Hal ini juga bisa menjadi peluang untuk mengajarkan kepada anak tentang pentingnya menjaga privasi dan memberikan persetujuan atau menolak memberikan persetujuan.Pertimbangkan dampak jangka panjang. Pertimbangkan bagaimana konten yang akan dibagikan pada saat ini untuk dilihat di masa depan, serta apakah anak akan merasa nyaman jika hal tersebut dibagikan kepada publik.Setting Privasi. Batasi konten publik hanya untuk dilihat orang terdekat atau ubah akun menjadi private, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya.Selektif. Selektif dalam memilih momen atau informasi yang layak dibagikan kepada khalayak umum.

Saat kita ingin mengendarai “sharenting”, coba tanya diri sendiri terlebih dulu, “Apakah ini perlu?” “Apakah ini harus?”. Pahami maksud hati kita, jika hanya untuk memamerkan, lebih baik jangan melakukan pilihan itu, jangan berlebihan dalam berbagi. Anak bukanlah trophy yang selalu harus dipamerkan. Renungkan lebih untuk menggunakan pengharapan dengan bijak dalam menentukan mana yang pantas dibagikan dan tidak. Dunia digital lebih luas dari apa yang kita bayangkan, jejak digital pun bisa membahayakan tanpa kita sadari.

Jika ingin mengabadikan momen anak, dapat dilakukan dengan cara yang lebih aman. Seperti mencetak foto anak. Jika mencetak foto terlalu ribet, ibu bisa juga membuatkan akun email khusus untuk si anak, jika email juga dirasa terlalu ribet, ibu bisa membuatkan akun media sosial khusus untuk si anak, dengan catatan akun tersebut diatur sebagai privat. Berikutnya, berbagilah ketika momen-momen penting yang pantas diabadikan, kirimkan ke email anak, atau ke akun media sosial anak pribadi tersebut. Cara tersebut lebih aman dibandingkan berbagi ke media publik. Ibu juga dapat menceritakan kisah lucu dan lain-lain tentang apa pun. Lebih hebatnya lagi, akun yang berisi kenangan indah tersebut, dapat ibu gunakan sebagai hadiah anak ketika telah dewasa atau remaja, cukup sayang bukan.

Berbagi momen anak memang menarik, tetapi sangatlah baik jika kita dapat menjaga keamanan dan privasi anak, itu jauh lebih penting.

Related posts