Sekilas Mengenai Sekaten

69
Kalender pameran sekaten
Kalender pameran sekaten

Sekaten dipercaya sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak pada awal abad XVI. Sekaten terus menerus dilestarikan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Tengah seperti Pajang dan Mataram, baik pada saat pusat kerajaan berada di Kerta, Pleret, Kartasura, hingga Surakarta dan Yogyakarta.

Ada yang memaknai Sekaten berasal dari kata ‘syahadatain’ yang berarti dua kalimat syahadat. Selain itu, Sekaten juga terkait erat dengan gamelan yang diberi nama Kyai Sekati. Konon, pada masa Kerajaan Demak, para Wali menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada Bulan Mulud (Tahun Jawa) untuk berdakwah dengan pertama-tama membunyikan Gamelan Sekati. Masyarakat yang tertarik dengan suara gamelan pada sunyi senyap masa silam, akan berkumpul dan kemudian mendengarkan dakwah para Wali dalam menyebarkan agama Islam. Sekaten yang diselenggarakan pada Bulan Mulud kemudian juga sering disebut dengan peringatan Muludan.

Prosesi Sekaten diawali dengan prosesi Miyos Gangsa. Yaitu keluarnya Gamelan Sekati Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan Kanjeng Kiai (KK) Nagawilaga dari dalam KeratonYogyakarta menuju area Pagongan Masjid Gedhe pada tanggal 6 Mulud Tahun Jawa. Pada dini hari tanggal 12 MuludGamelan Sekati akan dikembalikan ke dalam keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Selama berada di Pagongan Masjid Gedhe antara 6-12 Mulud ini, gamelan terus menerus ditabuh sejak pagi hingga tengah malam secara bergantian. Rentang waktu pada saat gamelan dibunyikan inilah yang disebut dengan berlangsungnya tradisi Sekaten.

Upacara Miyos Gangsa tahun ini akan dilaksanakan pada Minggu (3/11). Utusan Dalem yang dalam hal ini adalah Putra-Putra Dalem Putri akan menyebar udhik-udhik di area Bangsal Ponconiti dan Kamandungan Lor (Pelataran Keben) pada pukul 20:00. Selanjutnya prosesi Miyos Gangsa akan dimulai tepat pukul 23:00 hingga menuju tengah malam. Sementara itu, Kondur Gangsa akan dilaksanakan pada Sabtu (9/11) pukul 23.00. Sri Sultan akan miyos di Masjid Gedhe untuk melaksanakan serangkaian kegiatan. Keesokan hari setelah pelaksanaan Kondur Gangsa, akan digelar Garebeg Mulud pada Minggu (10/11) mulai pukul 07:00. Seluruh rangkaian kegiatan ini dapat disaksikan oleh umum. Sesaat sebelum dimulainya prosesi Kondur Gangsa, Sultan akan miyos ke halaman Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik yang terdiri dari beras, biji-bijian dan uang logam di tiga tempat diawali dari Pagongan KidulPagongan Lor, dan di dalam Masjid Gedhe. Peristiwa ini merupakan momen yang mempertemukan raja dengan rakyat secara langsung.

READ  Dispar DIY Siap Sambut Libur Lebaran 2019

Selanjutnya, Sri Sultan akan mendengarkan pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW di Serambi Masjid Gedhe dengan mengenakan simping atau rangkaian bunga di telinga. Penggunaan simping bunga ini mempunyai makna bahwa raja akan mendengarkan keluhan serta aspirasi rakyat.

Luhurnya tradisi beserta makna yang terkandung dalam setiap rangkaian acara yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini akan lebih ditonjolkan melalui pengelolaan acara sekaten tahun ini. Hal ini diharapkan dapat lebih meneguhkan keistimewaan Yogyakarta dalam menjadi benteng budaya di tanah Jawa.