Home » Seputar Jogja » Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)

Tentang FKY

Dimulai sejak tahun 1989, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) adalah event tahunan seni-budaya yang telah menasional dan selalu menjadi event favorit bagi masyarakat Yogyakarta. Selama 26 tahun lamanya, FKY tetap eksis sebagai ‘etalase seni’ dalam format festival, dan telah dikenal secara luas sebagai ‘rumah’ segala event seni dan budaya di Yogyakarta. Berbagai bentuk seni, baik rupa, pertunjukan, kria, dan produk, selalu disajikan dengan ‘kemasan’ yang selalu berbeda untuk menciptakan kerinduan tersendiri bagi masyarakat terhadap event FKY.

Dalam sejarah perjalanannya, FKY pada dasarnya merupakan ruang yang memberikan dua bentuk kemanfaataan bagi masyarakat, yaitu profit dan non-profit. Kehadiran FKY dari sisi profit–melalui kegiatan rutin Pasar Seni–telah diketahui bersama dapat memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat, baik pelaku seni maupun masyarakat sekitarnya, dan dari sisi non-profit, event FKY dapat memberikan kemanfaatan secara psikologis, yaitu sebagai ruang untuk bermain, berjalan- jalan, bersantai bersama pasangan, maupun keluarga untuk menikmati berbagai hal yang berkaitan dengan seni dan budaya.

Memasuki usia yang ke-28 ini, berbagai evaluasi dilakukan, beragam fenomena perubahan seni dan budaya dipandang secara tajam, dan inovasi menjadi keniscayaan. Kesemuanya dilakukan untuk menghadirkan nuansa event FKY yang istimewa.

FKY 28 pada tahun 2016 ini diselenggarakan pada tanggal 23 Agustus – 9 September 2016

Masa Depan, Hari Ini Dulu

Selamat datang di masa depan! Begitulah sepercik ambisi yang hendak diproyeksikan pada FKY ke-28 di tahun 2016 ini. FKY mencoba untuk meneropong suatu masa, di detik, menit, jam, tahun, bahkan abad mendatang, dengan fenomena kebudayaan sebagai titik acu ide.

Kebudayaan tidak saja menyoal tentang artefak dan tradisi, tetapi secara lebih luas, menjangkau horison realitas kehidupan; sosial, pendidikan, arsitektur, masyarakat urban, teknologi, seni, gaya hidup, komunikasi, hingga politik.Tangible hingga intangible.

Gemuruh perubahan yang selalu terjadi pun, turut berpengaruh terhadap ‘warna’ dan ‘wajah’ baru kebudayaan. Hari ini, adalah masa depan dari kemarin. Apa yang tampak pada kebudayaan saat ini merupakan akumulasi dari apa yang digagas, diinterpretasi, diantisipasi, hingga diwujudkan oleh kebudayaan sebelumnya. Lalu, apakah kesenian juga dapat menjangkau imajinasi yang lebih luas? Melihat berbagai kemungkinan-kemungkinan baru di masa mendatang mengenai kebudayaan? Di sinilah, FKY menjadi ruang untuk melacak, menggali, menggagas, hingga mengeksplorasi fenomena kebudayaan dulu dan kini, untuk ‘memacak’ masa depannya, dengan cara seni tentunya; melalui karya, ide, inovasi, cara mengapresiasi, hingga diskusi.

Harapannya, apa yang disuguhkan bukan hanya sebatas ‘tontonan’ semata, tetapi juga menjadi cara pandang dan pemicu partisipasi masyarakat mengenai masa depan kebudayaan. Kesenian memang, bukan menjadi gerbang utama memasuki masa depan, tetapi, setidaknya bisa menjadi pintu masuk pembicaraan lain melalui imajinasi.

Logo FKY 28: Awoh Aweh

Filosofi Bentuk:

Inspirasi logo berasal dari sembilan jenis tanaman yang terdapat di lingkungan keraton Yogyakarta, yaitu Waringin(beringin), Tanjung, Gayam, Sawo Kecik, Asem, Kemuning, Bodhi, Kepel Watu, dan Jambu Dersana. Sembilan jenis tanaman divisualkan dalam wujud daun, sedangkan pohon dalam wujud tipografi FKY.

Tanaman merupakan elemen pendukung kehidupan, seperti halnya kesenian sebagai elemen pendukung kebudayaan. Tanaman juga menghasilkan buah atau bibit untuk menjaga kelangsungan hidupnya, sama seperti kesenian yang menghasilkan karya, gagasan, imajinasi, hingga inovasi sebagai upaya pelestarian maupun pengembangan kebudayaan. Selain itu, tanaman yang terdapat di lingkungan keraton Yogyakarta juga memiliki keunikan filosofi yang selaras dengan tujuan dari FKY ke-28, yaitu pengembangan kesenian berdasarkan spirit kebudayaan Yogyakarta.

Filosofi Jenis Tanaman:

Pohon waringin melambangkan pengayoman, keadilan, dan juga sifat abadi. Waringin juga melambangkanmanunggaling kawula lan Gusti, atau rakyat dengan pemimpin, atau bersatunya manusia dengan Tuhan yang memberikan hidup. Di dalam bahasa Sansekerta, pohon waringin juga disebut nyagrodha atau satavrksa yang merupakan perwujudan dari kosmos Dewa Wisnu.

Pohon Gayam melambangkan ‘ayom’ atau teduh. Diartikan pula sebagai ‘ayem’ (tentram). Pohon gayam juga dapat menjaga kebersihan dan beningnya air.

Filosofi sembilan tanaman di lingkungan keraton Yogyakarta yang divisualkan menjadi logo diharapkan dapat menjadi ‘payung’ pemikiran dan capaian dalam perhelatan FKY tahun ini, sebagai upaya melestarikan sekaligus mengembangkan kesenian sebagai elemen kebudayaan.

Visualisasi Bentuk dan Warna:

Logo FKY ke-28 menggunakan konsep logotype berwujud kata FKY dengan wujud pohon yang merepresentasikan tanaman sekaligus tiga masa; dulu, kini, dan nanti. Tiap bidang geometris pembentuk huruf FKY direka menjadi ranting-ranting yang merepresentasikan cabang-cabang kesenian yang diakomodasi oleh FKY.

Di bagian atas terdapat sejumlah sembilan buah daun yang mewakili sembilan jenis tanaman. Pola penyusunan daun yang acak adalah simbolisasi dari kedinamisan kebudayaan.

Kombinasi warna dingin dan panas merupakan simbolisasi dari kebudayaan yang dibentuk oleh adanya berbagai unsur yang saling berintegrasi.

sumber : infofky.com


Similar posts